EMPAT ALIRAN TEORI BELAJAR DAN TOKOH-TOKOH TERKAIT
EMPAT ALIRAN TEORI BELAJAR
·
Apa
itu belajar ?
Menurut Gagne (1984), Belajar dapat
didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisasi berubah perilakunya
akibat pengalaman.
·
Aliran
teori-teori belajar :
1. Teori belajar BEHAVIORISTIK
2. Teori belajar KOGNITIF
3. Teori belajar HUMANISTIK
4. Teori belajar KONTRUKTIVISTIK
·
Pengertian
Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar
behavoristik
adalah teori pembelajaran yang mengamati dan mempelajari perubahan tingkah
laku seseorang sebagai hasil dari pengalaman di masa lalu. Teori ini menekankan
bahwa tingkah laku yang ditunjukkan seseorang merupakan akibat dari interaksi
antara stimulus dengan respon.
·
Tokoh-tokoh Teori Behavioristik
1. Edward
Lee Thorndike (31 Agustus 1874 sampai 9 Agustus 1949)
Thorndike memiliki pengertian
dari teori belajar behavioristik yang dipahaminya sebagai proses
interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah rangsangan,
contohnya seperti pikiran dan perasaan. Sedangkan respon adalah reaksi yang
ditunjukkan akibat stimulus. Perubahan tingkah laku akibat pembelajaran bagi
Thorndike bisa berupa hal konkrit (bisa diamati dengan kasat mata) maupun tak
konkrit.
Thorndike dikenal akan
percobaannya yang paling fenomenal yaitu meneliti perilaku pembelajaran oleh
kucing.
2. Ivan
Petrovich Pavlov (lebih dikenal dengan julukan Pavlov saja, 14 September 1849 sampai 27
Februari 1936)
Pavlov
terkenal dalam pembahasan teori behavioristik karena percobaannya terhadap
anjing. Percobaan ini dilakukan dengan memperlihatkan makanan pada anjing.
Anjing tersebut kemudian mengeluarkan air liur yang merupakan stimulus alami
dan diasosiasikan dengan keinginan akan makanan tersebut. Percobaan ini
dilanjutkan dengan membunyikan lonceng untuk memanggil anjing yang kemudian
akan diperlihatkan makanan.
Pada akhirnya, anjing
akan menangkap pembelajaran bahwa lonceng memiliki keterkaitan dengan makanan,
sehingga ketika Pavlov mencoba membunyikan lonceng yang awalnya digunakan untuk
memanggil anjing tersebut, secara otomatis anjing tersebut sudah menanggapi
dengan mengeluarkan air liur.
Hasil eksperimen
Pavlov ini akhirnya melahirkan beberapa hukum pembelajaran, yaitu:
1.
Hukum
Pembiasaan yang Dituntut. Hukum ini
menjelaskan bahwa jika ada dua macam stimulus yang diberikan secara
bersama-sama (dan salah satunya merupakan reinforcer), maka gerakan
reflek pada stimulus lainnya juga meningkat.
2.
Hukum
Pemusnahan yang Dituntut. Hukum ini memaparkan
jika reflek yang diperkuat melalui respondent conditioning diberikan
kembali tanpa adanya reinforcer, maka kekuatannya akan melemah.
3. Burrhus Frederic Skinner (20 Maret 1904 sampai 18
Agustus 1990)
Skinner dalam teori behaviorisitk melahirkan buah
pemikirannya yang dikenal dengan istilah Teori Operant Condiitioning.
Teori ini mengungkapakan bahwa tingkah laku yang dilihatkan subyek tak
semata-mata merupakan respon terhadap stimulus tetapi juga tindakan yang
disengaja. Skinner menyatakan pendapatnya bahwa pribadi seseorang merupakan
hasil dari respon terhadap lingkungannya. Dua macam respon tersebut adalah:
1.
Respondent
Response yaitu respon akibat rangsangan tertentu. Contoh:
anjing yang mengeluarkan air liurnya ketika majikannya membawakan makanan
untuknya.
2.
Operant
Response yaitu respon yang muncul dan semakin berkembang
oleh rangsangan tertentu. Contoh: seorang anak yang mendapatkan reward
ketika ia menjadi juara kelas, maka ia akan semakin giat belajar untuk
mempertahankan bahkan menaikkan prestasinya dengan harapan diberikan reward
kembali (dengan nilai yang sama atau lebih tinggi).
·
Pengertian Teori
Belajar Kognitif
Kognitif berasal dari bahasa
Inggris “Cognitive” yang bermakna mengerti atau pengertian. Diartikan secara
luas bahwa Cognition (Kognisi) adalah perolehan pengetahuan, penataan dan
penggunaannya. Kalau arti secara umumnya adalah kemampuan intelektual yang
terdiri dari beberapa tahap mulai dari Knowledge (Pengetahuan), Comprehention
(Pemahaman), Aplication (Penerapan), Analysis (Analisis), Sinthesis (Sintesa),
sampai Evaluation (Evaluasi). Ada juga yang mengartikan kognitif sebagai
kemampuan untuk mengembangkan rasional (akal).
·
Tokoh-tokoh
Teori Kognitif
1.
Jean Piaget
Menurut
Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu
proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf.
Dengan semakin bertambahnya umur seseorang, maka semakin komplekslah susunan
syaraf dan semakin pula kemampuannya. Ketika individu berkembang menuju
kedewasaan, akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan
menyebabkan adanya perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya. Anak
mebangun sendiri pengetahuannya dari pengalamnya sendiri dari lingkungan.
2.
Jerome Bruner
Menurut
Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang
ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu, enactive, icomic, dan
symbolic.
Tahap inaktif, merupakan
tahapa dimana seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam memahami lingkungan
sekitarnya. Artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan
pengetahuan motoric. Misalnya, melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan
sebagainya.
Tahap ikomik, merupakan
tahap dimana seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar
visualisasi verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar
melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).
Tahap simboik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan
abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan
berlogika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui symbol-simbol
bahasa, logika, mataematika, dan sebagainya. Komunikasinya dilakukan dengan
menggunakan banyak symbol. Semakin matang seseorang dalam proses berfikirnya.,
semakin dominan sistem simbolnya. Meskipun begitu tidak berarti ia tidak lagi
menggunakan enaktif dan ikomik. Penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran
merupakan salah satu bukti masih diperlukannyasistem enaktif dan ikomik dalam
proses belajar.
3.
David Ausubel
Inti dari teori belajar Ausubel adalah belajar bermakna.
Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses yang dikaitkan dengan informasi
baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif
seseorang. Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau
fakta-fakta saja, tetapi merupakan kegiatan yang menghubungkan konsep-konsep
untuk menghasilkan pemahaman yang utuh sehingga konsep yang dipelajari akan
dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan.
·
Pengertian
Teori Belajar Humanistik
Pada dasarnya, teori
humanistik adalah teori belajar yang memanusiakan manusia. Pembelajaran
dipusatkan pada pribadi seseorang. Teori ini tidak lepas dari pendidikan yang
berfokus pada bagaimana menghasilkan sesuatu yang efektif, bagaimana belajar
yang bisa meningkatkan kreativitas dan memanfaatkan potensi yang ada pada
seseorang. Teori humanistik ini muncul sebagai perlawanan terhadap
teori belajar sebelumnya, yaitu Teori Behaviouristik, yang dianggap terlalu
kaku, pasif, bahkan penurut ketika menggambarkan manusia.
·
Tokoh-Tokoh
Teori Belajar Humanistik
1.
Arthur Combs
Memiliki pendapat bahwa
belajar merupakan hal yang bisa terjadi tatkala bagi seseorang ada artinya.
Guru tidak bisa memaksa seseorang untuk mempelajari hal yang tidak disukai atau
dianggap tidak relevan. Ketika muncul perlawanan, hal itu
sebenarnya merupakan bentuk perilaku buruk yang mencerminkan ketidakmauan
seseorang untuk mempelajari hal yang bukan minatnya, karena sama saja dengan
melakukan sesuatu yang baginya tidak mendatangkan kepuasan.
2.
Abraham Maslow
Memiliki pandangan yang
berbeda terkait dengan teori belajar humanistik ini. Maslow berpendapat bahwa
proses belajar pada manusia merupakan proses yang dilaluinya untuk mengaktualisasikan
dirinya. Belajar adalah proses untuk mengerti sekaligus memahami siapa diri
kita sendiri, bagaimana kita menjadi diri kita sendiri, sampai potensi apa yang
ada pada diri kita untuk kita kembangkan ke arah tertentu
3.
Carl Rogers
Baginya, pengalaman
individu merupakan fenomena logika yang dialami oleh individu itu sendiri.
Rogers juga berpendapat bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan untuk
mencapai kesempurnaan hidup, membentuk konsep hidup yang unik, dan tingkah
lakunya selaras dengan konsep kehidupan yang dimilikinya. Menurut Rogers,
pembelajaran terjadi melalui fenomena hidup atau pengalaman yang dialami setiap
orang.
·
Pengertian
Teori Belajar Kontruktivistik
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang
bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang
dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa
yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan
pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan
menjadi lebih dinamis.
·
Tokoh-Tokoh
Teori Belajar Kontruktivistik
1. John Dewey
Pembelajaran
berbasis masalah menemukan akar intelektualnya pada penelitian John Dewey
(Ibrahim & Nur, 2004). Dalam demokrasi dan pendidikan Dewey menyampaikan
pandangan bahwa sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan
kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. Ilmu
mendidik Dewey menganjurkan pembelajar untuk mendorong pebelajar terlibat dalam
proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki
masalah-masalah intelektual dan sosial.
Dewey juga
menyatakan bahwa pembelajaran disekolah seharusnya lebih memiliki manfaat dari
pada abstrak dan pembelajaran yang memiliki manfaat terbaik dapat dilakukan
oleh pebelajar dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek
yang menarik dan pilihan mereka sendiri.
2. Jean Piaget
Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan diatas pandangan
konstruktivis kognitif (Ibrahim dan Nur, 2004). Pandangan ini banyak didasarkan
teori Piaget. Piaget mengemukakan bahwa pebelajar dalam segala usia secara
aktif terlibat dalam proses perolehan informasi dan membangun pengetahuan
mereka sendiri. Bagi Piaget pengetahuan adalah konstruksi (bentukan) dari kegiatan/tindakan
seseorang (Suparno, 1997). Pengetahuan tidak bersifat statis tetapi terus
berevolusi.
3. Lev Vygotsky
Seperti halnya Piaget, Vygotsky juga percaya bahwa perkembangan
intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang
dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh
pengalaman ini (Ibrahim & Nur, 2004). Untuk memperoleh pemahaman individu
mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki.
Piaget memandang bahwa tahap-tahap perkembangan intelektual individu
dilalui tanpa memandang latar konteks sosial dan budaya individu. Sementara
itu, Vygotsky memberi tempat lebih pada aspek sosial pembelajaran. Ia percaya
bahwa interaksi sosial dengan orang lain mendorong terbentuknya ide baru dan
memperkaya perkembangan intelektual pembelajar. Implikasi dari pandangan
Vygotsky dalam pendidikan adalah bahwa pembelajaran terjadi melalui interaksi
sosial dengan pembelajar dan teman sejawat. Melalui tantangan dan bantuan dari
pembelajar atau teman sejawat yang lebih mampu, pebelajar bergerak ke dalam
zona perkembangan terdekat mereka dimana pembelajaran baru terjadi.
Komentar
Posting Komentar